SANG PENGEMBARA HADIS

Seorang pemimpin kaum mukminin dalam ilmu hadis, siapakah yang tidak mengenal beliau? Beliau memiliki nama lengkap Abu Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari. Akan tetapi, beliau lebih dikenal dengan nama nisbah beliau kepada tempat kelahirannya, Bukhara. Sehingga kaum muslimin lebih mengenalnya sebagai Imam Bukhari.

 

Imam Bukhari dilahirkan di Bukhara setelah shalat Jumat, 13 Syawal 194 H. Beliau berasal dari keturunan keluarga yang memang dikenal alim.  Ayah beliau yang bernama Ismail adalah seorang ulama hadis dan dikenal sebagai seseorang yang berakhlak baik, bertaqwa, serta wara’. Adapun ibunda beliau adalah seorang wanita solehah, yang  kesalihannya tidak kalah dibandingkan dengan ayah beliau.

 

Ayah Imam Bukhari telah wafat ketika beliau masih kecil, kemudian beliau diasuh dan dididik oleh ibunda beliau dengan penuh perhatian. Ibunda beliau selalu mendorong Bukhari kecil untuk mencari ilmu, membuatnya mencintai ilmu, dan selalu menghiasinya dengan ketaatan. Maka tumbuhlah Bukhari sebagai pemuda yang berjiwa lurus, menjaga lisan, berakhlak mulia, serta bersemangat dalam ketaatan.

  Continue reading

Favourite Quotes

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Sesungguhnya seorang mukmin adalah penanggung jawab atas dirinya, (karenanya hendaknya ia senantiasa) mengintrospeksi diri kerena Allah Subhanahu wa ta’ala semata.”

“Adalah hisab (perhitungan amal) di Yaumul Qiyamah nanti akan terasa lebih ringan bagi suatu kaum yang (terbiasa) mengintrospeksi diri mereka selama masih di dunia, dan sungguh hisab tersebut akan menjadi perkara yang sangat memberatkan bagi kaum yang menjadikan masalah ini sebagai sesuatu yang tidak diperhitungkan.”

“Sesungguhnya seorang mukmin (apabila) dikejutkan oleh sesuatu yang dikaguminya maka dia pun berbisik: ‘Demi Allah, sungguh aku benar-benar sangat menginginkanmu, dan sungguh kamulah yang sangat aku butuhkan. Akan tetapi demi Allah, tiada (alasan syar’i) yang dapat menyampaikanku kepadamu, maka menjauhlah dariku sejauh-jauhnya. Ada yang menghalangi antara aku denganmu’.”

“Dan (jika) tanpa sengaja dia melakukan sesuatu yang melampaui batas, segera dia kembalikan pada dirinya sendiri sembari berucap: ‘Apa yang aku maukan dengan ini semua, ada apa denganku dan dengan ini? Demi Allah, tidak ada udzur (alasan) bagiku untuk melakukannya, dan demi Allah aku tidak akan mengulangi lagi selama-lamanya, insya Allah’.”

“Sesungguhnya seorang mukmin adalah suatu kaum yang berpegang erat kepada Al Qur`an dan memaksa amalan-amalannya agar sesuai dengan Al Qur`an serta berpaling dari (hal-hal) yang dapat membinasakan diri mereka.”

“Sesungguhnya seorang mukmin di dunia ini bagaikan tawanan yang (selalu) berusaha untuk terlepas dari perbudakan. Dia tidak pernah merasa aman dari sesuatupun hingga dia menghadap Allah, karena dia mengetahui bahwa dirinya akan dimintai pertanggungjawaban atas semua itu.”

“Seorang hamba akan senantiasa dalam kebaikan selama dia memiliki penasehat dari dalam dirinya sendiri. Dan mengintrospeksi diri merupakan perkara yang paling diutamakan.” (Mawa’izh Lil Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 39, 40, 41) Continue reading