Muda Membara

Ketika kita menggunakan mesin pencari google untuk menemukan kata ”muda membara”, akan muncul berbagai macam pilihan:  mulai dari grup facebook dengan nama “muda membara” sampai ada yang menjual kaos dengan tema “muda membara” juga. Dalam tulisan ini, kita tidak akan membahas semua hal yang berkaitan dengan “muda membara” tersebut, baik cara membuat grup di facebook bernama “muda membara”, apalagi strategi untuk menjual kaos muda membara. Pada tulisan ini kita hanya akan membahas tentang beberapa hal yang penting diperhatikan ketika seseorang sudah menginjak masa-masa membara, yaitu masa muda. Pembahasan ini sangat perlu untuk diingat-ingat seorang pemuda, terutama seorang mahasiswa baru yang hidup dengan berbagai pilihan, dari pilihan terbaik hingga pilihan yang terburuk. Satu saja pilihan kita salah, imbasnya akan berakibat di dunia dan di akhirat kita.

 

Perhatian serius lebih diperlukan lagi ketika seorang pemuda mulai timbul dalam dirinya sifat yang selalu menentang aturan, mencari-cari celah dari sesuatu yang formal, ataupun mulai mencari penyangkalan atas pernyataan yang dibenarkan semua orang. Maka di antara hal yang harus menjadi perhatian kita antara lain:

 

Bersikap Adil dalam Hidup

Suatu persiapan untuk kehidupan yang kekal dan tidak ada habisnya tentunya berbeda dengan persiapan kita untuk hidup sekitar 70-90 tahun saja. Begitu juga dengan cara menginvestasikan waktu kita. Apakah kita akan mempersiapkan kehidupan yang sementara atau memprioritaskan kehidupan yang abadi?. Bagi pemuda yang telah menyadari hal ini tentunya mulai memilah dan memilih manakah yang dapat memberikan keuntungan di kehidupan yang kekal atau hanya memberikan keuntungan sementara, atau bahkan malah merugikan kehidupan yang kekal. Di samping itu pula, tentunya mulai memilih semua sarana yang dapat mendukung kepada tujuan yang hendak dicapai, termasuk di dalamnya adalah apa yang dipelajari, siapa yang ditemani, dan yang lainnya.

 

Terdapat sebuah hadis yang patut direnungkan untuk menentukan prioritas kita dalam hidup: ”Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya. Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai. Dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup. Allah akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya” (HR At Tirmidzi).

 

Ingat Musuh yang Selalu Bersama Kita (Setan)

Hal penting yang harus kita sadari tidak hanya tipudaya setan secara langsung, akan tetapi kita juga harus menyadari langkah-langkah setan yang akan menyesatkan manusia. Bisa jadi setan mengajak kita kepada 99 pintu kebaikan untuk mengarahkannya kepada satu pintu kebinasaan. Ketika seorang pemuda menyadari hal ini, tindakan selanjutnya yang dilakukannya adalah memikirkan solusi untuk menemukan penangkal dari musuh yang selalu menyerang tersebut. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi dampak dari serangan setan ini. Salah satu cara yang sangat bermanfaat adalah sebagaimana penafsiran Ibnul Qayyim dalam ayat terakhir  dari surat Al-‘aṣr, yang pada intinya agar kita saling mengingatkan dalam kebaikan, yang dengan itu kita dapat mengatasi tipuan setan karena buramnya pemahaman (syubhat). Juga agar kita saling mengingatkan dalam kesabaran dapat mengatasi tipuan karena keinginan (syahwat) yang tidak wajar.

 

Mudah-mudahan dua perhatian tersebut dapat menjadi hal yang selalu diingat dalam memulai dunia perkuliahan, sehingga tidak perlu ada penyesalan pada hari-hari berikutnya. Semoga pula kita selalu berusaha untuk menjadi bagian dalam motivasi, inspirasi, dan solusi di masyarakat dan tidak menjadi polusi di masyarakat kita. Amin.

 

Oh iya. mungkin menjadi pilihan yang menarik jika sembari kuliah juga menjual kaos bertemakan muda membara. [Agung Satrio]

Ketika Tidak Menemukan Titik Temu dalam Satu Masalah

Yunus ash-Shadafi pernah mengatakan: “Aku tidak pernah mendapatkan orang yang lebih jenius dari Imam Syafi’i. Suatu hari aku berdiskusi dengan beliau tentang satu persoalan, namun kami tidak menemukan titik temu. Beliau menemuiku lagi dan menggandeng tanganku seraya berkata:

“Wahai Abu Musa, apakah tidak sepantasnya kita untuk tetap bersaudara, MESKIPUN TIDAK MENEMUKAN TITIK TEMU DI ANTARA KITA DALAM SATU MASALAH?”

Dari Yunus bin Abdul A’la, diriwayatkan bahwa ia berkata: “Asy-Syafi’i pernah berkata kepadaku:

“Wahai Yunus, apabila engkau mendengarkan kabar yang tidak mengenakan dari seorang teman, janganlah lantas terburu memusuhinya dan memutus hubungan tali kasih. Karena dengan demikian engkau akan termasuk orang yang menghilangkan keyakinannya dengan keraguan.

Tetapi yang benar, temuilah dia dan katakan kepadanya:

‘Aku mendengar engkau mengatakan begini dan begini.’

Ingat, jangan sebutkan secara mendetil. Apabila ia tidak mengakuinya, katakan kepadanya:

‘Engkau lebih benar dan lebih baik dari yang kudengar.’

Dan jangan perpanjang lagi urusannya. Tapi kalau ia mengakuinya dan kamu melihat ada yang bisa dijadikan alasan baginya dalam hal itu, terimalah alasan itu. Namun apabila engkau juga tidak mendapatkan alasan apapun baginya, sementara amat sulit jalan untuk mendapatkannya, engkau bisa tetapkan bahwa ia melakukan kesalahan.

Setelah itu, engkau boleh memilih: kalau engkau mau, engkau bisa membalas dengan yang setara perbuatannya tanpa menambah-nambah; dan kalau engkau mau, engkau bisa memaafkannya. Dan memaafkannya berarti lebih dekat dari ketakwaan dan lebih menunjukkan kemuliaanmu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim.” (Asy-Syura: 40)

Kalau dengan balasan yang setimpal engkau masih mendapat tantangan DARI DIRIMU SENDIRI, pikirkanlah kembali KEBAIKAN-KEBAIKANNYA DI MASA LAMPAU, HITUNG SEMUANYA, lalu balaslah kejahatannya yang sekarang dengan kebaikan.

Janganlah karena kejahatannya, engkau MELUPAKAN kebaikannya yang terdahulu. Karena yang demikian itu adalah kezhaliman yang sesungguhnya, wahai Yunus.

Apabila engkau memiliki teman, GANDENGLAH DENGAN TANGANMU ERAT-ERAT, karena mencari teman itu susah, dan berpisah dengannya itu perkara mudah.”

Semoga bermanfaat….

(Dikutip dengan sedikit penyesuaian dari buku “MENELADANI AKHLAK DARI GENERASI TERBAIK”dan Redaksi).

Abu Muhammad Herman