Ramadan Lalu, Berbekaskah?

Berpisah dengan Ramadan

Sahabat, rasanya baru hitungan minggu yang lalu kita dapati himpunan waktu yang berkah. Pada himpunan waktu itu kita temui diri yang begitu bersemangat dalam menghamba kepada Allah. Padanya pula kita telah dimudahkan untuk beribadah. Bahkan tidak hanya mudah, tapi juga ganjarannya yang dilipat gandakan. Betapa ada seseorang yang berharap ingin terus hidup, agar bisa senantiasa bertemu bulan yang berkah ini.

Harapan yang selalu muncul ialah satu bulan ketaatan tersebut bisa menghapus sebelas bulan pembangkangan. Maka wajar jika banyak orang yang bersedih ketika berpisah dengan Ramadan. Akan tetapi coba tanya diri kita, adakah secercah rasa sedih ketika berpisah dengan Ramadan yang kaya akan kemuliaan itu?

Bagaimana pula kita memilih untuk tidak bersedih, sedang di Ramadan ampunan amat berlimpah ditawarkan. Sampai-sampai Imam Qotadah mengatakan “Siapa saja yang tidak diampuni di bulan Ramadan, maka sungguh di hari lain ia pun akan sulit mendapat ampunan”.

  Continue reading

Ketika Tidak Menemukan Titik Temu dalam Satu Masalah

Yunus ash-Shadafi pernah mengatakan: “Aku tidak pernah mendapatkan orang yang lebih jenius dari Imam Syafi’i. Suatu hari aku berdiskusi dengan beliau tentang satu persoalan, namun kami tidak menemukan titik temu. Beliau menemuiku lagi dan menggandeng tanganku seraya berkata:

“Wahai Abu Musa, apakah tidak sepantasnya kita untuk tetap bersaudara, MESKIPUN TIDAK MENEMUKAN TITIK TEMU DI ANTARA KITA DALAM SATU MASALAH?”

Dari Yunus bin Abdul A’la, diriwayatkan bahwa ia berkata: “Asy-Syafi’i pernah berkata kepadaku:

“Wahai Yunus, apabila engkau mendengarkan kabar yang tidak mengenakan dari seorang teman, janganlah lantas terburu memusuhinya dan memutus hubungan tali kasih. Karena dengan demikian engkau akan termasuk orang yang menghilangkan keyakinannya dengan keraguan.

Tetapi yang benar, temuilah dia dan katakan kepadanya:

‘Aku mendengar engkau mengatakan begini dan begini.’

Ingat, jangan sebutkan secara mendetil. Apabila ia tidak mengakuinya, katakan kepadanya:

‘Engkau lebih benar dan lebih baik dari yang kudengar.’

Dan jangan perpanjang lagi urusannya. Tapi kalau ia mengakuinya dan kamu melihat ada yang bisa dijadikan alasan baginya dalam hal itu, terimalah alasan itu. Namun apabila engkau juga tidak mendapatkan alasan apapun baginya, sementara amat sulit jalan untuk mendapatkannya, engkau bisa tetapkan bahwa ia melakukan kesalahan.

Setelah itu, engkau boleh memilih: kalau engkau mau, engkau bisa membalas dengan yang setara perbuatannya tanpa menambah-nambah; dan kalau engkau mau, engkau bisa memaafkannya. Dan memaafkannya berarti lebih dekat dari ketakwaan dan lebih menunjukkan kemuliaanmu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim.” (Asy-Syura: 40)

Kalau dengan balasan yang setimpal engkau masih mendapat tantangan DARI DIRIMU SENDIRI, pikirkanlah kembali KEBAIKAN-KEBAIKANNYA DI MASA LAMPAU, HITUNG SEMUANYA, lalu balaslah kejahatannya yang sekarang dengan kebaikan.

Janganlah karena kejahatannya, engkau MELUPAKAN kebaikannya yang terdahulu. Karena yang demikian itu adalah kezhaliman yang sesungguhnya, wahai Yunus.

Apabila engkau memiliki teman, GANDENGLAH DENGAN TANGANMU ERAT-ERAT, karena mencari teman itu susah, dan berpisah dengannya itu perkara mudah.”

Semoga bermanfaat….

(Dikutip dengan sedikit penyesuaian dari buku “MENELADANI AKHLAK DARI GENERASI TERBAIK”dan Redaksi).

Abu Muhammad Herman