Ramadan Lalu, Berbekaskah?

Berpisah dengan Ramadan

Sahabat, rasanya baru hitungan minggu yang lalu kita dapati himpunan waktu yang berkah. Pada himpunan waktu itu kita temui diri yang begitu bersemangat dalam menghamba kepada Allah. Padanya pula kita telah dimudahkan untuk beribadah. Bahkan tidak hanya mudah, tapi juga ganjarannya yang dilipat gandakan. Betapa ada seseorang yang berharap ingin terus hidup, agar bisa senantiasa bertemu bulan yang berkah ini.

Harapan yang selalu muncul ialah satu bulan ketaatan tersebut bisa menghapus sebelas bulan pembangkangan. Maka wajar jika banyak orang yang bersedih ketika berpisah dengan Ramadan. Akan tetapi coba tanya diri kita, adakah secercah rasa sedih ketika berpisah dengan Ramadan yang kaya akan kemuliaan itu?

Bagaimana pula kita memilih untuk tidak bersedih, sedang di Ramadan ampunan amat berlimpah ditawarkan. Sampai-sampai Imam Qotadah mengatakan “Siapa saja yang tidak diampuni di bulan Ramadan, maka sungguh di hari lain ia pun akan sulit mendapat ampunan”.

  Continue reading

Muda Membara

Ketika kita menggunakan mesin pencari google untuk menemukan kata ”muda membara”, akan muncul berbagai macam pilihan:  mulai dari grup facebook dengan nama “muda membara” sampai ada yang menjual kaos dengan tema “muda membara” juga. Dalam tulisan ini, kita tidak akan membahas semua hal yang berkaitan dengan “muda membara” tersebut, baik cara membuat grup di facebook bernama “muda membara”, apalagi strategi untuk menjual kaos muda membara. Pada tulisan ini kita hanya akan membahas tentang beberapa hal yang penting diperhatikan ketika seseorang sudah menginjak masa-masa membara, yaitu masa muda. Pembahasan ini sangat perlu untuk diingat-ingat seorang pemuda, terutama seorang mahasiswa baru yang hidup dengan berbagai pilihan, dari pilihan terbaik hingga pilihan yang terburuk. Satu saja pilihan kita salah, imbasnya akan berakibat di dunia dan di akhirat kita.

 

Perhatian serius lebih diperlukan lagi ketika seorang pemuda mulai timbul dalam dirinya sifat yang selalu menentang aturan, mencari-cari celah dari sesuatu yang formal, ataupun mulai mencari penyangkalan atas pernyataan yang dibenarkan semua orang. Maka di antara hal yang harus menjadi perhatian kita antara lain:

 

Bersikap Adil dalam Hidup

Suatu persiapan untuk kehidupan yang kekal dan tidak ada habisnya tentunya berbeda dengan persiapan kita untuk hidup sekitar 70-90 tahun saja. Begitu juga dengan cara menginvestasikan waktu kita. Apakah kita akan mempersiapkan kehidupan yang sementara atau memprioritaskan kehidupan yang abadi?. Bagi pemuda yang telah menyadari hal ini tentunya mulai memilah dan memilih manakah yang dapat memberikan keuntungan di kehidupan yang kekal atau hanya memberikan keuntungan sementara, atau bahkan malah merugikan kehidupan yang kekal. Di samping itu pula, tentunya mulai memilih semua sarana yang dapat mendukung kepada tujuan yang hendak dicapai, termasuk di dalamnya adalah apa yang dipelajari, siapa yang ditemani, dan yang lainnya.

 

Terdapat sebuah hadis yang patut direnungkan untuk menentukan prioritas kita dalam hidup: ”Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya. Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai. Dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup. Allah akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya” (HR At Tirmidzi).

 

Ingat Musuh yang Selalu Bersama Kita (Setan)

Hal penting yang harus kita sadari tidak hanya tipudaya setan secara langsung, akan tetapi kita juga harus menyadari langkah-langkah setan yang akan menyesatkan manusia. Bisa jadi setan mengajak kita kepada 99 pintu kebaikan untuk mengarahkannya kepada satu pintu kebinasaan. Ketika seorang pemuda menyadari hal ini, tindakan selanjutnya yang dilakukannya adalah memikirkan solusi untuk menemukan penangkal dari musuh yang selalu menyerang tersebut. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi dampak dari serangan setan ini. Salah satu cara yang sangat bermanfaat adalah sebagaimana penafsiran Ibnul Qayyim dalam ayat terakhir  dari surat Al-‘aṣr, yang pada intinya agar kita saling mengingatkan dalam kebaikan, yang dengan itu kita dapat mengatasi tipuan setan karena buramnya pemahaman (syubhat). Juga agar kita saling mengingatkan dalam kesabaran dapat mengatasi tipuan karena keinginan (syahwat) yang tidak wajar.

 

Mudah-mudahan dua perhatian tersebut dapat menjadi hal yang selalu diingat dalam memulai dunia perkuliahan, sehingga tidak perlu ada penyesalan pada hari-hari berikutnya. Semoga pula kita selalu berusaha untuk menjadi bagian dalam motivasi, inspirasi, dan solusi di masyarakat dan tidak menjadi polusi di masyarakat kita. Amin.

 

Oh iya. mungkin menjadi pilihan yang menarik jika sembari kuliah juga menjual kaos bertemakan muda membara. [Agung Satrio]

Bagaimana Bisa Mengambil Pelajaran?

orang-orang kafir dan munafiq, apabila ditimpa kenikmatan, maka mereka berkata: “ini karena kekuatan yang ada padaku: karena ilmuku, karena pemikiranku, karena kesungguhanku… dll.” ini dikarenakan mereka memang tidak beriman kepada Allaah, yang sejatinya yang menghidupkan mereka, yang memberi makan mereka, yang memberi kecerdasan mereka, yang memberi kekuatan kepada mereka.. Continue reading

Favourite Quotes

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Sesungguhnya seorang mukmin adalah penanggung jawab atas dirinya, (karenanya hendaknya ia senantiasa) mengintrospeksi diri kerena Allah Subhanahu wa ta’ala semata.”

“Adalah hisab (perhitungan amal) di Yaumul Qiyamah nanti akan terasa lebih ringan bagi suatu kaum yang (terbiasa) mengintrospeksi diri mereka selama masih di dunia, dan sungguh hisab tersebut akan menjadi perkara yang sangat memberatkan bagi kaum yang menjadikan masalah ini sebagai sesuatu yang tidak diperhitungkan.”

“Sesungguhnya seorang mukmin (apabila) dikejutkan oleh sesuatu yang dikaguminya maka dia pun berbisik: ‘Demi Allah, sungguh aku benar-benar sangat menginginkanmu, dan sungguh kamulah yang sangat aku butuhkan. Akan tetapi demi Allah, tiada (alasan syar’i) yang dapat menyampaikanku kepadamu, maka menjauhlah dariku sejauh-jauhnya. Ada yang menghalangi antara aku denganmu’.”

“Dan (jika) tanpa sengaja dia melakukan sesuatu yang melampaui batas, segera dia kembalikan pada dirinya sendiri sembari berucap: ‘Apa yang aku maukan dengan ini semua, ada apa denganku dan dengan ini? Demi Allah, tidak ada udzur (alasan) bagiku untuk melakukannya, dan demi Allah aku tidak akan mengulangi lagi selama-lamanya, insya Allah’.”

“Sesungguhnya seorang mukmin adalah suatu kaum yang berpegang erat kepada Al Qur`an dan memaksa amalan-amalannya agar sesuai dengan Al Qur`an serta berpaling dari (hal-hal) yang dapat membinasakan diri mereka.”

“Sesungguhnya seorang mukmin di dunia ini bagaikan tawanan yang (selalu) berusaha untuk terlepas dari perbudakan. Dia tidak pernah merasa aman dari sesuatupun hingga dia menghadap Allah, karena dia mengetahui bahwa dirinya akan dimintai pertanggungjawaban atas semua itu.”

“Seorang hamba akan senantiasa dalam kebaikan selama dia memiliki penasehat dari dalam dirinya sendiri. Dan mengintrospeksi diri merupakan perkara yang paling diutamakan.” (Mawa’izh Lil Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 39, 40, 41) Continue reading

Nikmatnya Hidup Sederhana

Sudah menjadi tabiat manusia, ia akan lebih konsumtif menghamburkan uang, manakala mulai mengeyam kehidupan yang mapan dan kemudahan ekonomi. Seolah-olah kekayaan kurang berarti banyak bila pemiliknya tidak mempergunakannya untuk keperluan yang lebih besar dan kemewahan. Misalnya dengan banyak memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang kurang penting baginya. Begitulah keadaan seseorang, ia lebih mudah beradaptasi dengan hidup enak ketimbang dengan hidup menderita.
Continue reading

Ilmu yang Bermanfaat akan dapat Meluruskan Niat Seseorang

Yahya bin Yaman berkata:

“Aku pernah mendengar Sufyaan sejak empat puluh tahun yang lalu, ia berkata: ‘Hari ini tak ada yang lebih utama daripada pencarian hadits’. Mereka berkomentar kepada Sofyan; “Paling-paling mereka mencarinya tanpa niat”. Kontan Sofyan berkata: “Pencarian mereka untuk berburu hadis itu sendiri merupakan niat’… “.

(ad-Darimiy)

dari Mujahid ia berkata:

“Dahulu kami mencari ilmu ini dengan tanpa niat yang benar. Kemudian Allah memberi niat (kepada kami) di kemudian hari”.

(ad-Darimiy)

dari al Hasan al bashriy, ia berkata:

“Sungguh ada beberapa kaum yang mencari ilmu sedang mereka menghendaki hal itu bukan karena Allah dan bukan untuk memperoleh yang ada di sisiNya, maka tak henti-hentinya mereka mencari ilmu hingga akhirnya mereka menghendakinya karena Allah dan untuk memperoleh apa yang ada di sisiNya”.

(ad-Darimiy)

Berkata Ibnul Munir:

“ilmu itu pelurus niat… yang kemudian niat tersebut nantinya yang akan memperbaiki amalan.”

(Fathul Bari, 1/108)

Berarti, amalan yang rusak (tidak berimbang dengan ilmu yang dimiliki) disebabkan niat yang salah. Dan hendaknya niat yang salah ini kita perbaiki dengan senantiasa menuntut ilmu. Sehingga semoga ilmu yang kita pelajari tersebut dapat meresap kedalam dada, sehingga memperbaiki niat yang tadinya salah tersebut, yang kemudian memperbaiki amalan kita..

Semoga bermanfaat

(Ricky Dzulkifli)

Persaudaraan Hati bukan Tubuh

Bismillah….

Ketika membaca dan merenungkan kisah kehidupan para sahabat terkadang kita terharu dan berharap persaudaraan mereka tersebut bisa kita rasakan. Satu persahabatan dan persaudaraan yang muncul dari hati dan iman yang memenuhi kalbu mereka, bukan sekedar bersatunya tubuh dan badan mereka.

Ironisnya banyak orang memandang persaudaraan identik dengan kumpulnya tubuh dalam satu organisasi atau kelompok. Hal ini jelas keliru, sebab sebenarnya dasar persaudaraan iman adalah kesatuan hati kaum muslimin, bukan berkumpulnya tubuh mereka. Hal ini dapat dilihat pada petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam al-Qur`aan yang mulia. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan persaudaraan kaum muslimin dengan kalimat (فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ) tidak dengan kalimat (فَأَلَّفَ بَيْنَِكُمْ). Dengan demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat persatuan hati menjadi sebab persaudaraan iman bukan kepada persatuan badan.

Syeikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin telah menjelaskan hal ini dengan menyatakan: Persatuan hati adalah poros ukhuwah imaniyah (persaudaraan iman) bukan persatuan badan. Berapa banyak umat yang berkumpul tubuhnya namun hati mereka berpecah belah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang orang Yahudi:

Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah.(QS al-Hasyr/15:13).

Tidak ada faedah dari berkumpulnya badan dengan hati yang berpecah belah. Faedah bersatunya hati adalah berkumpulnya hati walaupun badannya saling berjauhan. Berapa banyak orang yang memiliki hubungan cinta dan persahabatan denganmu namun ia jauh darimu. Berapa banyak juga orang yang sebaliknya. Kamu merasa ia bermuka dua dan tidak ada diantaramu dengannya kecintaan dan persahabatan. Padahal ia berdampingan denganmu seperti benda dengan bayangannya. Jadi yang penting adalah hati. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ

Maka Allah mempersatukan hatimu, (QS Alimran/3:103)

Jelaslah persaudaraan terjadi dengan adanya keterikatan antar kaum muslimin yang dilandasi ikatan agama islam. Ikatan yang mengikat kuat hati kaum muslimin seperti satu tubuh yang digambarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamdalam sabdanya:

الْمُؤْمِنُونَ كَرَجُلٍ وَاحِدٍ إِنْ اشْتَكَى رَأْسُهُ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالْحُمَّى وَالسَّهَرِ

Kaum mukminin seperti satu orang, jika kepalanya sakit maka seluruh tubuh merasakan deman dan tidak bisa tidur. (Riwayat Muslim).

Persaudaraan ini bukan persaudaraan karena nasab atau fanatisme golongan (hizbiyah) tapi persaudaraan aqidah dan iman. Oleh karena itu Syeikh Muhammad al-Amiin as-Syingqiti rahimahullah menyatakan: Secara umum tidak ada perbedaan pendapat diantara kaum muslimin bahwa ikatan yang mengikat individu penduduk bumi anata mereka dan yang mengikat antara penduduk bumi dan langit adalah kalimat La ilaaha Illa Allah.

Ikatan persaudaraan kaum muslimin adalah bersatunya hati mereka dalam menegakkan kalimat Allah Subhanahu wa Ta’ala . Kalimat tersebut ditegakkan dengan iman dan ketakwaan yang menjadi sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatukan hati mereka.
Persaudaraan Iman anugerah Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Tidak ada seorangpun yang dapat menyatukan hati manusia satu dengan lainnya baik itu nabi maupun para ulama atau yang lainnya. Hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala semata yang menyatukan hati-hati tersebut dengan hikmah dan kemaha perkasaan-Nya. Betapa tidak, Dia lah yang telah menyatakan hal itu kepada Nabi Muhammad n dalam firman-Nya: Dan (Allah) Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. (QS Al Anfal/8:62-63).

Syeikh Abdurrahman bin Naashir as-Sa’di rahimahullah menuturkan: Mereka bersatu dan bersaudara serta bertambah kuat dengan sebab persatuan tersebut. Itu bukanlah hasil usaha seorang dan dengan satu kekuatan selain kekuatan Allah. Walaupun kamu telah membelanjakan emas dan perak serta selainnya yang ada dibumi ini seluruhnya untuk menyatukan hati mereka setelah perselisihan dan perpecahan yang parah tersebut. Tentulah kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Karena yang mampu menpersatukan hati hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Oleh karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala terangkan dengan sangat jelas dalam firmanNya:

Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara; (QS Alimran/3:103)

Jelaslah disini dengan rahmat-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mempersatukan hati kaum mukminin diatas ketaatan dan manhaj-Nya. Pantaslah disyukuri atas nikmat ini dengan cara cinta mencintai karena Allah dan berpegang teguh dengan tali Nya yang kokoh (islam).

Demikianlah persaudaraan tersebut Allah karuniakan kepada kaum mukminin yang bertaqwa dan berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah. Tidak dikaruniakan kepada orang-orang yang melanggar ajaran syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala , sehingga tidak akan terwujudkan dengan mengorbankan aqidah dan agama.

Tatkala memaafkan

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah

لَمَّا عَفَوْتُ وَلَمْ أحْقِدْ عَلَى أحَدٍ ** أَرَحْتُ نَفْسِي مِنْ هَمَّ الْعَدَاوَاتِ
Tatkala aku memaafkan maka akupun tidak membenci seorangpun…
Akupun merilekskan diriku dari kesedihan dan kegelisahan (yang timbul akibat) permusuhan
إنِّي أُحَيِّي عَدُوِّي عنْدَ رُؤْيَتِهِ ** لِأَدْفَعَ الشَّرَّ عَنِّي بِالتَّحِيَّاتِ
Aku memberi salam kepada musuhku tatkala bertemu dengannya…untuk menolak keburukan dariku dengan memberi salam
وأُظْهِرُ الْبِشْرَ لِلإِنْسَانِ أُبْغِضهُ ** كَمَا إنْ قدْ حَشَى قَلْبي مَحَبَّاتِ
Aku menampakan senyum kepada orang yang aku benci… sebagaimana jika hatiku telah dipenuhi dengan kecintaan
النَّاسُ داءٌ وَدَاءُ النَّاسِ قُرْبُهُمُ ** وَفِي اعْتِزَالِهِمُ قَطْعُ الْمَوَدَّاتِ
Orang-orang adalah penyakit, dan obat mereka adalah dengan mendekati mereka… dan sikap menjauhi mereka adalah memutuskan tali cinta kasih

Plan Your Future! “if you fail to plan, then you plan to fail”- Harvey MacKay

Kenapa Harus Berencana?

Siapa pula yang tidak ingin dirinya sukses? Terlebih Anda, pemuda yang baru mendapatkan gelar mahasiswa, tentu berharap apa yang akan Anda dapati di perkuliahan nanti bisa membimbing Anda untuk menggapai kesuksesan. Namun, tentu Anda sadar pula bahwa kesuksesan bukanlah sesuatu yang didapat dengan mudah atau bisa datang dengan sendirinya. Jangan kira dengan menjalani kuliah Continue reading